Kisah Kerajaan Kapas
Pekan ini seorang pangeran dilantik menjadi raja. Oleh sebab itu, sang raja yang gres tersebut memulai kiprah pertamanya dengan berkeliling tempat di sekitar istana kerajaan.
Sepanjang perjalanan itu kakinya berkali-kali menginjak batu-batu kerikil kecil hingga memar. Maka sang raja memerintahkan kepada menterinya supaya jalanan di sekeliling istana dilapisi dengan kapas. Agar kelak dikala ia berkeliling lagi kakinya selamat.
Pekan berikutnya sang raja kembali berkeliling meninjau desa-desa di sebelah barat dan timur istana. Lagi-lagi jalanan yang tidak mulus menjadi keluhannya. Sang raja memberi perintah yang sama kepada menteri untuk melapisi jalan-jalan desa dengan kapas.
Begitu pula yang terjadi pada seluruh desa di penjuru utara dan selatan. Dalam satu bulan persediaan para petani di kebun kapas habis untuk melapisi jalanan. Kerajaan itu sudah laksana kerajaan kapas.
Suatu hari sang raja berniat mengunjungi kerajaan tetangga. Seperti biasa ia mengajak menterinya yang setia. Ketika rombongan tersebut hingga di kerajaan tetangga, sang raja melihat kondisi jalan di sana belum berlapis kapas.
Ia lantas bertanya kepada seorang prajurit yang ditugaskan menyambut rombongan tersebut, "Bagaimana caranya saya berjalan menuju istana kerajaanmu sedangkan kondisi jalannya menyerupai ini? Tidakkah kalian berniat untuk melaksanakan perubahan menyerupai yang saya lakukan pada seluruh kerajaanku?"
"Maaf Baginda Raja. Kami sebetulnya juga mempunyai persoalan yang sama dengan kondisi jalan. Tetapi kami menemukan solusi dengan cara yang lain. Tidakkah Baginda Raja melihat sepatu yang saya pakai ini?"
"Sepatumu tebal sekali! Memangnya ada apa dengan sepatu itu?"
"Sepatuku ini telah saya lapisi dengan kapas, sehingga kaki kami tetap selamat! Ketahuilah Baginda Raja, kami juga ingin melaksanakan perubahan. Tetapi kami sadar, sebelum mengubah kerajaan ini, pertama kali kami harus mengubah diri sendiri terlebih dulu."
Sungguh di luar dugaan. Rupanya perkataan dari prajurit biasa itu bisa menyadarkan sang raja atas kesalahannya selama ini. Ia terlalu berhasrat untuk menciptakan perubahan pada orang lain, tetapi tidak dimulai dari perubahan dirinya sendiri.
Demikianlah cerita kerajaan kapas yang tak lekang dimakan waktu perihal hakikat sebuah perubahan. Sebagai seorang muslim, cerita ini mengingatkan kita pada Surat As-Shaf ayat 2,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kau menyampaikan sesuatu yang tidak kau kerjakan?"
Lihatlah bagaimana Allah menegur orang-orang yang menyeru perubahan kepada orang lain, tetapi ia sendiri tidak melakukannya.
Semoga kita semua dimampukan untuk memperbaiki diri sendiri, dan kelak akan menjadi awal untuk perbaikan saudara-saudara kita yang lain.
sumber : Arafat // Channel Telegram